image01
SMK INFORMATIKA PESAT
Tuesday, June 18, 2013

Mainan Balok Susun Lebih Baik Ketimbang Gadget, Ini Alasannya

0 comments

Jakarta - Saat ini gadget tak hanya dinikmati oleh orang dewasa. Banyak anak kecil yang sudah akrab dengan gadget lantaran orang tua kerap menenangkan anaknya dengan alat canggih tersebut. Padahal gadget bisa menghambat tumbuh kembang anak. Daripada gadget, permainan balok susun disebut lebih baik bagi perkembangan anak.

Seperti dikutip dari Asia One, Rabu (19/6/2013), penggunaan perangkat touchscreen berlebihan pada anak dapat menghambat perkembangannya. Selain itu perangkat layar sentuh juga bisa membuat penglihatan anak menjadi buruk. Alat ini juga bisa membuat anak kecanduan.

Profesor Marjory Ebbeck mengatakan akan lebih baik jika anak bermain dengan permainan berteknologi rendah seperti mainan balok-balok susun. Sebab permainan sederhana ini pada dasarnya membantu anak mengembangkan keterampilan motorik.

Menurut Prof Marjory, permainan tersebut justru akan membentuk anak menjadi lebih mahir pada teknologi. Studi terbaru ini dilaksanakan oleh Prof Marjory dan 5 peneliti lainnya dilakukan pada bulan Mei hingga Juli tahun lalu.

Sekitar 1.058 orang tua dan anak dibawah usia 7 tahun dengan total 1.542 anak terlibat dalam penelitian ini. Hasilnya ditemukan 66 persen anak berusia 2 tahun dan di bawah 2 tahun bergaul akrab dengan gadget atau permainan elektronik seperti smartphone dan touchscreen.

Sekitar 7 dari 10 orang tua mengatakan terdapat penurunan penglihatan pada anak-anak akibat alat canggih yang jadi mainan mereka. Sementara itu, lebih dari setengah anak kecanduan gadget. Ini dilihat dari tingkah anak yang mengamuk ketika gadget tersebut disimpan atau diambil.

Dalam penelitian ini juga disampaikan bahwa 6 dari 10 orang tua yang disurvei percaya bahwa gadget tersebut dapat membantu keterampilan motorik anak mereka. "Namun tetap saja, smartphone adalah perangkat dewasa dan bukan mainan anak-anak," ujar Prof Marjory.

Menurutnya, 'permainan digital' tidak dapat menggantikan efek dramatis dari permainan yang konkret atau permainan di luar rumah. Sebab menurutnya permainan berteknologi rendah merupakan kunci pertumbuhan holistik anak.

Misalnya saja berlari dan memanjat dapat memperkuat keterampilan motorik kasar pada anak. Sebab permainan ini melibatkan penggunaan otot yang lebih besar seperti pada otot kaki.

"Anak-anak mengembangkan kognitifnya melalui permainan imajinatif, seperti bermain peran," tambahnya.

Selain itu, menurut Prof Marjory, anak juga dapat mengeksplorasi, bereksperimen, dan juga belajar mengenai penemuan dan bukannya terhambat oleh gadget di mana mereka dapat mengatur keadaannya. "Anak-anak yang menggunakan gadget seperti tablet dan smartphone harus diawasi ketat," tegas Prof Marjory.

Dia pun mewanti-wanti agar orang tua bisa menghindarkan anaknya untuk mengekspos perangkat ini, khususnya anak-anak di bawah usia 2 tahun. Untuk itu, Prof Marjory akan membicarakan hal tersebut dalam rangkaian seminar yang diselenggarakan oleh Seed Institute mulai bulan depan.

Selain Prof Marjory, spesialis anak lainnya, dr Khoo Kim Choo, juga setuju dengan hal ini.
"Anak-anak harus berinteraksi dengan dunia nyata sejak awal. Dunia memiliki lebih banyak hal yang dapat ditawarkan pada anak dan mereka perlu belajar tentang alam dan sekitar mereka," terang dr Khoo.

Konsultan anak usia dini, Philip Koh mengatakan bahwa keterampilan sosial emosional dan bahasa tidak dapat dipelajari melalui gadget. Namun, beberapa permainan memang dapat memeberikan keuntungan seperti meningkatkan kreativitas mereka dalam menggambar.

Sementara itu Kepala universitas SIM University jurusan pendidikan usia dini, Theresa Lu, menyebut perangkat semacam itu dapat menjadi sarana belajar ekstra, jika digunakan sesuai dengan tujuan, makna, dan sesuai dengan tahapan perkembangannya.

Matthew Lee seorang manajer penjualan adalah salah satu orang tua yang membiarkan anaknya bermain game, menonton video, dan membaca cerita melalui gadget setiap hari. "Kenyataannya adalah orang tua yang bekerja memiliki waktu yang sedikit, sehingga iphone dapat membantu anak saya tetap tenang," ujar Matthew.

Selain Matthew, orang tua lainnya pun berpendapat bahwa untuk membatasi penggunaan gadget pada anaknya adalah sesuatu yang sulit. "Lebih mudah mengatakannya daripada melakukannya," kata Tan Siang Meng.

DetikHealth

www.ahyarpesat.blogspot.com © SMK Informatika Pesat Bogor

header 728 x 90 3

Leave a Reply